Pengertian Metabolisme
Salah satu tanda yang menunjukkan gejala hidup pada makhluk hidup
adalah melakukan metabolisme. Metabolisme secara harfiah mempunyai arti
“perubahan” (bahasa Yunanimetabole = berubah) yang dipakai untuk
menunjukkan semua perubahan kimia an energi yang terjadi di dalam tubuh, atau
secara sederhana adalah penggunaan makanan oleh tubuh.
Pada makhluk hidup, banyak reaksi kimia yang terjadi secara
simultan. Jika kita melihat reaksi kimia tersebut satu per satu, akan sulit
memahami aliran energi yang terjadi di dalam sel. Namun demikian, ada panduan
yang penting untuk memahami metabolisme sel, yaitu sebagai berikut.
1. Semua reaksi kimia yang terjadi didalam sel
melibatkan enzim.
2. Reaksi-reaksi tersebut melibatkan perubahan
senyawa dalam suatu serial atau lintasan. Lintasan dapat berupa lintasan lurus
(linear) atau melingkar (siklik)
Metabolisme dilakukan untuk memperoleh energi, menyimpan energi,
menyusun bahan makanan, membentuk struktur sel, merombak struktur sel,
memasukkan atau mengeluarkan zat-zat, melakukan gerakan, dan menanggapi
rangsangan. Dapat dibayangkan bahwa kesibukan molekul-molekul di dalam sel
berlangsung dalam dua kegiatan besar: menyusun ion atau molekul menjadi
molekul-molekul yang lebih besar, dan menguraikan senyawa-senyawa menjadi
molekul yang lebih kecil. Jadi, di dalam sel terdapat “mesin” kehidupan yang
rumit.
Enzim
Metabolisme bahan-bahan makanan, yaitu karbohidrat, protein, dan
lemak, akan menghasilkan CO2, H2O, dan energi yang diperlukan oleh tubuh dalam
bentuk ATP. Dari ketiga bahan makanan tersebut, penghasil energi yang paling
mudah dicerna oleh tubuh adalah karbohidrat. Metabolisme sangat bergantung pada
peran enzim. Enzim berperan sebagai pemercepat reaksi metabolisme di dalam
tubuh makhluk hidup, tetapi enzim tidak ikut bereaksi.
Enzim merupakan pengatur suatu reaksi. Berikut ini adalah contoh
reaksi yang diatur oleh enzim.
maltase
Maltose ß---à 2
glukosa
(substrat) (enzim) (produk)
Bahan tempat enzim bekerja disebut substrat. Dalam
contoh reaksi diatas, substratnya adalah maltosa. Bahan baru atau materi yang
dibentuk sebagai hasil reaksi disebut produk. Dalam contoh reaksi di atas hanya
ada satu produk, yaitu glukosa. Enzim yang mengkatalisis reaksi tersebut adalah
maltase.
Kategori:Kelainan
metabolisme
1.
ALBINISME
2.
AMILOIDOSIS
3.
ASIDOSIS TUBULUS RENALIS
4.
DIABETES MELITUS
5.
DISLIPIDEMIA
6.
INTOLERANSI LAKTOSA
7.
OBESITAS
8.
SISTINOSIS
1.ALBINISME
Albinisme (dari Bahasa
Latin albus, "putih"; atau dalam Bahasa Indonesia: Bulai),
merupakan salah satu bentuk kelainan bawaan hipopigmentasi yang
dikarakterisasikan oleh kurangnya ataupun tidak adanya pigmen melanin pada mata,
kulit, dan rambut. Albinisme diakibatkan oleh
pewarisan alel gen resesif.
Kelainan ini dapat ditemukan pada semua hewan vertebrata, termasuk pula manusia. Pada
beberapa kasus, manusia yg mengalami albinisme juga memiliki keterbatasan fisik
sebagai berikut:
1.
Sensitif terhadap sumber cahaya yang kuat, seperti lampu
sorot, sinar matahari.
2.
Memiliki keterbatasan pada jarak
penglihatan.
3.
Kulit sangat sensitif
terhadap sinar
matahari, dan dapat menimbulkan luka mirip dengan luka bakar atau tersiram air panas.
2.AMILOIDOSIS
Amiloidosis adalah sebutan untuk berbagai macam kondisi dengan adanya
penumpukan protein amiloid pada organ dan/ataujaringan, sehingga
mengakibatkan timbulnya penyakit. Sebuah protein adalah amiloid bila protein
menjadi sebuah bentuk tak larut yang khas, yang disebut lembaran
lipat-beta yang disebabkan oleh perubahan struktur
sekunder protein.
Kurang
lebih terdapat 25 protein yang dikenal dapat membentuk amiloid pada manusia. Sebagian
besar terdapat dalam plasma darah.
Beberapa
jenis amiloidosis dapat menyerang secara sistemis atau spesifik pada organ
tertentu. Ada pula yang merupakan kelainan genetika karena mutasi pada protein prekursornya. Perubahan bentuk sekunder terutama
disebabkan penyakit lain yang mengakibatkan terbentuknya protein tak normal
yang berlebihan seperti pembentukan berlebihan rantai ringan gamma globulin padamieloma
multipel (atau disebut juga amiloid AL), atau pembentukan berlebihan protein
fase akit secara berkesinambungan padaradang
kronis (yang dapat menjadi amiloid AA)
Diagnosis
Amiloid
dapat didiagnosa melalui pemeriksaan histologis pada jaringan yang terkena.
Penumpukan amiloid diidentifikasi dengan pewarnaan kongo
merah dan dilihat melaluicahaya
terpolarisasi, di mana
penumpukan tersebut dikenal dengan 'refraksi ganda hijau apel'. Pemeriksaan
kemudian dilanjutkan dengan uji-uji yang lebih khusus untuk protein amiloid. Biopsi dilakukan pada organ yang terkena. Semua penumpukan amiloid
menyimpan komponen P amiloid serum (SAP atau serum
amyloid P component), sebuah protein sirkulasi dari kelompok pentraksin. Pemindaian radionuklida SAP telah dapat
melokalisasi penumpukan amiloid pada pasien.
Amiloid Sistemis
Amiloidosis
sangat jarang terjadi dan diklasifikasikan menjadi 5 kategori:
·
Amiloidosis
primer, baik yang disertai maupun yang tidak disertai neoplasma limfoid atau sel
plasma
·
Amiloidosis
herediter
·
Amiloidosis
yang terkait dengan penuaan
·
Amiloidosis
pada kelenjar endokrin, misalnya amiloidosis yang dapat menyertai kanker tiroid medular dan neoplasia endokrin multipel
Amiloid yang ditemukan pada amiloidosis dapat
dibedakan berdasarkan senyawa yang tergantung pada bagian fibril. Amiloid AL yang ditemukan pada amiloidosis
primer mengandung fibril yang terdiri dari rantai
ringan imunoglobulin, sedang
tipe AA pada amiloidosis sekunder mengandung fibril yang terdiri dari protein A dengan massa molekul8.500 dalton dengan panjang 76 AA tanpa kandungan imunoglobulin sama sekali.
Amoid AL umumnya melibatkan jantung, lidah, saluran pencernaan dan kulit, sedangkan tipe AA umumnya menyebabkan
penumpukan fibril pada hati, ginjal dan limpa.
Amilodosis
primer atau herediter
Kelainan herediter yang jarang ditemukan ini
biasanya disebabkan oleh mutasi di protein prekursor, dan selalu dominan otosomal.
Protein perkursor adalah:
Amiloidosis
sekunder
Amiloidosis sekunder adalah
amilodisis yang sering terjadi.
·
Amiloidosis
AL. Imunoglobulin rantai ringan adlaah protein perkursornya,
diproduksi berlebih pada penyakit mieloma multipel.
·
Amiloidosis
AA. Protein perkursornya adalah protein A amiloid serum atau SAA (serum amyloid A protein), sebuah protein fase akut
karen radang kronis. Istilah amiloidosis sekunder lebih sering merujuk pada
jenis ini.
·
Amiloidosis
terkait dialisis. Protein
prekursornya adalah mikroglobulin-beta-2 yang tidak dapat dibersihkan dengan dialisis atau cuci darah. Hal
ini mengakibatkan penumpukan dan gagal ginjal tingkat akhir
pada dialysis.
Amilodosis
Spesifik Organ
Amiloid neurologis
·
Ensefalopati
spongiform menular disebabkan oleh
protein prion (PrP) yang kadangkala
dikelompokkan pada amiloidisis. Penyakit ini termasuk:
Amiloidosis
kardiovaskular
Lainnya
3.ASIDODIS TUBULUS RENALIS
Asidosis tubulus renalis (bahasa
Inggris: Renal tubular acidosis, RTA) adalah
suatu penyakit ginjal (renal) khususnya pada bagian tubulus
renalis-nya. Menurut sejumlah literaturilmiah
bidang kesehatan, penyakit ATR ini memang tergolong penyakit
langka, dengan manifestasi klinis yang tidak spesifik
sehingga diagnosis sering terlambat.
Dalam keadaan normal, ginjal menyerap asam sisa
metabolisme dari darah dan membuangnya ke dalam urin. Pada penderita
penyakit ini, bagian dari ginjal yang bernama tubulus renalis tidak dapat
berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga hanya sedikit asam yang dibuang ke dalam urin. Akibatnya terjadi
penimbunan asam dalam darah, yang mengakibatkan terjadinya asidosis, yakni
tingkat keasamannya menjadi di atas ambang normal.
Menurut sejumlah literatur ilmiah bidang
kesehatan, penyakit ATR ini memang tergolong penyakit yang jarang terjadi, dengan
manifestasi klinis yang tidak spesifik sehingga diagnosis sering terlambat.
Namun menurut Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A
(K), dokter spesialis gizi dan metabolik anak pada Bagian Ilmu Kesehatan Anak
di RSCM Jakarta, pasien penyakit ATR yang dia ditangani semakin hari semakin
banyak. Pada tahun 2005 saja, pasien ATR yang dia tangani ada sekitar 20-an
orang anak. Dan setiap tahun angka prevalensinya senantiasa bertambah.
Dampak
Penyakit asidosis jika dibiarkan bisa
menimbulkan dampak berikut:
·
Rendahnya
kadar kalium dalam darah. Jika kadar kalium darah rendah, maka terjadi kelainan
neurologis seperti kelemahan otot, penurunan refleks dan bahkan kelumpuhan.
·
Pengendapan
kalsium di dalam ginjal yang dapat mengakibatkan pembentukan batu ginjal. Jika itu
terjadi maka bisa bisa terjadi kerusakan pada sel-sel ginjal dan gagal ginjal
kronis.
·
Gangguan
motorik tungkai bawah merupakan keluhan utama yang sering ditemukan,
sehingga anak mengalami keterlambatan untuk dapat duduk, merangkak, dan
berjalan.
·
Kecenderungan
gangguan pencernaan, karena kelebihan asam dalam lambung dan usus, sehingga pasien mengalami gangguan penyerapan zat gizi dari usus
ke dalam darah. Akibat selanjutnya pasien mengalami keterlambatan tumbuh
kembang (delayed development) dan berat badan kurang.
Sebab
Biasanya dokter tidak dapat memastikan penyebab ATR. Namun
diduga penyakit ini disebabkan faktor keturunan atau bisa timbul akibat
obat-obatan, keracunan logam berat atau penyakit autoimun (misalnya lupus eritematosus sistemik atau sindroma Sjögren).
Penyembuhan
Sejauh ini dunia
kedokteran belum menemukan obat atau terapi untuk menyembuhkannya, karena
penyakit ini tergolong sebagai kerusakan organ tubuh, seperti penyakit diabetes mellitus (akibat kerusakan kelenjar insulin).
Sementara ini penanganan ATR baru sebatas
terapi untuk mengontrol tingkat keasaman darah, yaitu dengan memberikan obat
yang mengandung zat bersifat basa (alkalin) secara berkala (periodik), sehingga
tercapai tingkat keasaman netral, seperti pada orang normal. Zat basa ini
mengandung bahan aktif natrium bikarbonat (bicnat).
Dilihat dari bentuknya, sedikitnya ada tiga
jenis bicnat di pasaran Indonesia: tablet, bubuk, dan cairan.
Jika pasiennya anak-anak, maka kalau
menggunakan obat dalam bentuk tablet, tablet tersebut harus digerus terlebih
dulu sebelum digunakan. Setelah itu dicampur dengan air matang, lalu diberikan
kepada pasien. Sedangkan jika menggunakan bentuk bubuk dan cairan, tinggal
dicampur air matang lalu diberikan kepada pasien, sesuai dengan dosisyang ditentukan dokter.
4.DIABETES MELITUS
Diabetes mellitus, DM (bahasa Yunani: διαβαίνειν, diabaínein,
tembus atau pancuran air) (bahasa Latin: mellitus, rasa manis)
yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah penyakit kencing manisadalah kelainan metabolik yang disebabkan oleh banyak
faktor, dengan simtoma berupa hiperglikemia kronis
dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai akibat dari:
- defisiensi sekresi hormon insulin, aktivitas insulin, atau
keduanya.[2]
- defisiensi transporter glukosa.
- atau keduanya.
Berbagai penyakit, sindrom dan simtoma dapat terpicu oleh diabetes
mellitus, antara lain: Alzheimer, ataxia-telangiectasia, sindrom Down, penyakit Huntington, kelainan mitokondria, distrofi miotonis,penyakit Parkinson, sindrom Prader-Willi, sindrom Werner, sindrom Wolfram,[3] leukoaraiosis, demensia,[4] hipotiroidisme, hipertiroidisme, hipogonadisme,[5] dan lain-lain.
Klasifikasi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan bentuk diabetes mellitus
berdasarkan perawatan dan simtoma:[2]
- Diabetes tipe 1, yang meliputi simtoma ketoasidosis hingga rusaknya sel
beta di dalam pankreas yang disebabkan atau menyebabkan autoimunitas, dan bersifat idiopatik. Diabetes mellitus denganpatogenesis jelas, seperti fibrosis sistik atau defisiensi mitokondria, tidak termasuk pada penggolongan ini.
- Diabetes tipe 2, yang diakibatkan oleh
defisiensi sekresi insulin, seringkali disertai dengan sindrom
resistansi insulin
- Diabetes gestasional, yang meliputi gestational impaired glucose
tolerance, GIGT dan gestational
diabetes mellitus, GDM.
dan menurut tahap klinis tanpa pertimbangan patogenesis, dibuat menjadi: - Insulin requiring for survival diabetes, seperti pada kasus
defisiensi peptida-C.
- Insulin requiring for control diabetes. Pada tahap ini, sekresi insulin endogenus tidak cukup untuk mencapai
gejala normoglicemia, jika tidak disertai dengan tambahan
hormon dari luar tubuh.
- Not insulin requiring diabetes.
Kelas empat pada tahap klinis serupa dengan
klasifikasi IDDM (bahasa Inggris: insulin-dependent diabetes
mellitus),
sedang tahap kelima dan keenam merupakan anggota klasifikasi NIDDM (bahasa
Inggris: non insulin-dependent diabetes mellitus). IDDM
dan NIDDM merupakan klasifikasi yang tercantum pada International Nomenclature of Diseases pada tahun 1991 dan revisi
ke-10International Classification of Diseases pada
tahun 1992.
Klasifikasi Malnutrion-related
diabetes mellitus, MRDM, tidak lagi digunakan oleh karena, walaupun malnutrisi dapat memengaruhi ekspresi beberapa tipe
diabetes, hingga saat ini belum ditemukan bukti bahwa malnutrisi atau
defisiensi protein dapat menyebabkan diabetes. Subtipe MRDM; Protein-deficient pancreatic diabetes
mellitus, PDPDM, PDPD, PDDM, masih dianggap sebagai bentuk malnutrisi yang
diinduksi oleh diabetes mellitus dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
Sedangkan subtipe lain, Fibrocalculous
pancreatic diabetes, FCPD, diklasifikasikan sebagai penyakit pankreas eksokrin pada lintasan fibrocalculous pancreatopathy yang menginduksi diabetes mellitus.
Klasifikasi Impaired
Glucose Tolerance, IGT, kini didefinisikan sebagai tahap dari cacat regulasi
glukosa, sebagaimana dapat diamati pada seluruh tipe kelainan hiperglisemis.
Namun tidak lagi dianggap sebagai diabetes.
Klasifikasi Impaired
Fasting Glycaemia, IFG, diperkenalkan sebagai simtoma rasio gula
darah puasa yang lebih tinggi dari batas atas rentang
normalnya, tetapi masih di bawah rasio yang ditetapkan sebagai dasar diagnosa
diabetes.
Penanganan
Pasien yang cukup terkendali dengan pengaturan
makan saja tidak mengalami kesulitan kalau berpuasa. Pasien yang cukup
terkendali dengan obat dosis tunggal juga
tidak mengalami kesulitan untuk berpuasa. Obat
diberikan pada saat berbuka puasa. Untuk yang terkendali dengan obat
hipoglikemik oral (OHO) dosis tinggi, obat diberikan dengan dosis sebelum
berbuka lebih besar daripada dosis sahur. Untuk yang
memakai insulin, dipakai insulin jangka menengah yang diberikan saat berbuka
saja. Sedangkan pasien yang harus menggunakan insulin (DMTI) dosis ganda,
dianjurkan untuk tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan.
5.DISLIPIDEMIA
Kelainan
metabolisme lipid (lemak) dapat primer (genetik) maupun sekunder (didapat) yang
ditandai dengan peningkatan (hiperlipidemia) atau penurunan kadar lipid dalam
darah yang mempunyai peranan penting dalam pembentukan plak pembuluh darah
(aterosklerosis). Kelainan kadar lemak dalam darah yang utama adalah kenaikan
kadar kolesterol total, kenaikan kadar trigliserid serta penurunan kadar
kolesterol HDL (kolesterol baik).
Gejala dan Tanda
Dislipidemia sendiri tidak menimbulkan gejala tetapi dapat
mengarah ke penyakit jantung dan pembuluh, seperti penyakit jantung koroner dan
penyakit pembuluh arteri perifer. Trigliserid tinggi dapat menyebabkan
pankreatitis akut. Kadar LDL yang tinggi dapat menyebabkan xanthelasma kelopak
mata, arcus corneae.
Tata Laksana
Penatalaksanaan dislipidemia mencakup non-medikamentosa
(tanpa obat) dan medikamentosa (dengan obat-obatan). Penatalaksanaan yang
paling penting adalah tanpa obat. Pasien melakukan
perubahan gaya hidup dengan cara diet yang baik dengan komposisi
makanan seimbang, latihan jasmani (aerobik), penurunan berat badan bagi yang
gemuk (obesitas), menghentikan kebiasaan merokok dan minuman alkohol.
Apabila dengan tatalaksana diatas gagal maka dapat diberikan
tatalakasana dengan obat. Yang termasuk dalam obat penurun lipid adalah
Golongan statin
· Simvastatin
· Lovastatin
· Pravastatin
· Fluvastatin
· Atorvastatin
· Rosuvastatin
Golongan
resin
·
Kolestiramin
·
Kolestipo
Golongan
asam nikotinat
·
Lepas lambat
·
Lepas cepat
Golongan asam fibrat
· Bezafibrat
· Fenofibrat
· Gemfibrazil
Penghambat absorbsi kolesterol
· Ezetimibe
Sebagai contoh bila setelah memeriksakan kadar lipid
mendapat hiperkolesterolemia dapat diberikan statin atau resin maupun
dikombinasi. Bila terdapat banyak peningkatan pada profil lipid dapat diberikan
statin atau kombinasi statin dengan asam nikotinat. Apabila hanya triglisrida
yang meningkat dapat diberikan golongan asam fibrat.
Untuk memonitor profil lipid dapat dilakukan setiap 6 minggu
sampai target yang diinginkan oleh dokter.
6.GONDOK
gondok bisa di artikan dalam istilah medis struma
adalah pembengkakan atau benjolan besar yang terdapat pada leher sebelah depan
di karenakan pertumbuhan kelenjar gondok yang tidak normal. Penyakit
gondok biasanya disebabkan oleh kurangnya mengkonsumsi
garam yang beryodium terhadap tubuh.
Jika
kekurangan zat yodium pada kaum wanita yang sedang hamil sanat berbahaya karena
dapat menyebabkan bayi meninggal dunia atau lahir dengan keterbelakangan mental
serta dapat juga dapat lahir dengan cacat tellinga.
Penyebab
Penyakit Gondok
Penyakit
gondok memiliki banyak penyebab, memang sedikit orang yang tahu mengenai
penyakit gondok, dan berikut ini jenis-jenis penyebab penyakit gondok dalam
dunia kesehatan.
Resistensi
tubuh
Kekebalan
sel-sel tubuh terhadap pengaruh hormon tiroid meningkatkan produksi sehingga
memicu gondok.
Pubertas dan
kehamilan
Karena
kebutuhan tiroid meningkat struma. HCG pada trimester pertama dapat keliru
dianggap TSH
Otoimun
Pada
penyakit otoimun tubuh mempunyai zat yang menolak keberadaan kelenjar tiroid
dengan cara mengganggu kelenjar ini.
Infeksi
Penyebab
tiroiditis infeksiosa dapat bakteri atau virus.
Degenerasi
Degenerasi
adalah penurunan mutu jaringan tiroid sehingga bentuk dan kinerjanya abnormal
atau disfungsi.
Neoplasia
Regresi
proliferatif noduler menyebabkan neoplasma jinak atau benigna dan ganas atau
maligna.
Defisiensi
nutris
Kekurangan
yodium atau mineral tertentu menyebabkan kinerja tiroid inefisien sehingga
memicu penyakit gondok.
Dishormonogenesis
Ini di
sebabkan oleh efek enzim pda tahapan tertentu, biasanya sejak lahir atau
turunan.
Goitrogen
Goitrin,
tioglikosida, tiosianat, disulfide, yodium belebih dapat menyebabkan
strumigenesis.
Pencegahan Penyakit Gondok
Penyakit gondok timbul
sebagai akibat dari kekurangan yodium, maka langah utama dalam pencegahan
penyakit ini adalah dengan mengkonsumsi garam yang mengandung yodium. Mengkonsumsi
ganggang laut yang dicampurkan pada makanan serta mengkonsumsi seafood
dipercaya bisa mencegah penyakit gondok.
Pengobatan Penyakit Gondok
Pengobatan Penyakit Gondok
Dengan
mengkonsumsi garam beryodium dengan dosis dan takaran yang tepat bisa mengobati
penyakit gondok. Dan untuk mengobati penyakit gondok ini adalah dengn cara
pembedahan atau operasi utnuk mengambil benjolannya. Jika penderita penyakit
gondok selalu kelihatan gemetar, gelisah, serta mata yang menonjol, merupakan
ciri-ciri penyakit gondok yang berbahaya. Segera kunjungi dokter untuk mendapatkan
penanganan yang tepat.
Demikian
tadi informasi mengenai Penyakit Gondok, dan semoga info
mengenai Definisi, Ciri, Gejala dan Penyebab Penyakit Gondok ini menambah
pengetahuan anda dalam dunia kesehata.
7.INTOLERANSI LAKTOSA
Intoleransi
laktosa adalah gangguan penyerapan laktosa yang disebabkan oleh karena
defisiensi enzim laktosa dalam brush border usus halus.
DIAGNOSIS
Pada
seseorang yang menderita intoleransi laktosa, bila dia mengkonsumsi sejumlah
dosis uji dari laktosa maka dia akan mengalami diare, perut kembung dan rasa
tidak enak pada perut dalam 20-30 menit. Dosis pengujian ini tidak dipecah
menjadi glukosa, sehingga kadar glukosa dalam darah tidak akan meningkat.
Mungkin
perlu dilakukan biopsi usus halus. Contoh dari usus halus tersebut
diperiksa dibawah mikroskop dan dilakukan pengujian untuk aktivitas laktase
atau enzim lainnya. Tes ini juga dapat menunjukan adanya kemungkinan lain
yang menyebabkan malabsorbsi.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Pengukuran
pH tinja (pH < 6)
2. Penentuan
kadar gula dalam tinja dengan tablet “Clinitest”
Normal tidak terdapat gula dalam tinja
(+ = 0,5%, ++ = 0,75%, +++ = 1%, ++++ = 2%)
Normal tidak terdapat gula dalam tinja
(+ = 0,5%, ++ = 0,75%, +++ = 1%, ++++ = 2%)
3. Laktosa
loading (tolerance) test
Setelah pasien dipuasakan
selama semalam diberi minum laktosa 2 g/kgBB. Dilakukan pengukuran kadar gula
darah sebelum diberikan dan setiap 1/2 jam kemudian sehingga 2 jam lamanya.
Positif jika didapatkan grafik yang mendatar selama 2 jam atau kenaikan kadar
gula darah kurang dari 25 mg%.
4. Barium
meal lactose Setelah penderita dipuasakan semalam, kemudian diberi minum
larutan barium laktosa. Positif bila larutan barium lactose terlalu cepat
keluar (1 jam) dan berarti sedikit yang diabsorbsi.
5. Biopsi
Biopsi mukosa usus halus dan ditentukan kadar enzim laktose dalam mukosa tersebut.
Biopsi mukosa usus halus dan ditentukan kadar enzim laktose dalam mukosa tersebut.
8.OBESITAS
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari
penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.
Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas.
Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.
Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas.
Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.
Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:
· Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
· Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
· Obesitas berat : kelebihan berat badan >100%. Obesitas
berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk.
GEJALA OBESITAS
Penimbunan
lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding
dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak
nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan.
Gangguan pernafasan bisa terjadi
pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur
apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki).
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki).
Sering ditemukan kelainan kulit.
Seseorang yang obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit
dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang
secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak.
Sering ditemukan edema (pembengkakan
akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.
9.SISTINOSIS
Sistinosis adalah penyakit dimana terjadi abnormalitas pada zat cystine.
Penyakit ini adalah yang sangat langka dan belum bisa diobati sepenuhnya.
Cysitinosis merupakan penyakit turunan, dimana cystine diproduksi dalam sel-sel
tubuh secara berlebihan. Jika tubuh kelebihan cystine, sel-sel akan memadat
karena cystin akan saling bergabung dan membentuk Kristal.
thanks atas infonya, ditunggu artikel yang lainnya
BalasHapushttp://obatherbal07.com/obat-herbal-amiloidosis/